Undang-Undang Dasar Negara Khilafah

UUD / Politik Luar Negeri §181-191

Pasal 185: Sarana Politik

Undang-Undang Dasar Negara Khilafah, berdasarkan metode kenabian: Pasal 185: Keberanian dalam mengungkapkan pelanggaran kriminal berbagai negara, menjelaskan bahaya politiknya yang penuh kepalsuan, membongkar persekongkolan jahat dan menjatuhkan martabat para pemimpin yang sesat, adalah cara yang paling penting dalam menjalankan politik.

 

 

Article 185: Some of the most important political means are exposing the crimes of other states, demonstrating the danger of erroneous politics, exposing harmful conspiracies and undermining misleading personalities.

This article is part of the styles, and is part of the permitted issues, and the Messenger  صلى الله عليه وآله وسلم used to expose the crimes of Bani Quraythah when they broke the treaty on the day of Al-Ahzaab, and when the Quraysh attacked him because ‘Abd Allah Bin Jahsh (ra) took two men as prisoners and killed another during the sacred month and so they claimed that Muhammad  صلى الله عليه وآله وسلم and his  صلى الله عليه وآله وسلم companions had made the sacred month permitted (and so violated the custom), and spilt blood, seized wealth and captured men during it. When the Quraysh attacked him with that, Allah (swt) revealed verses which exposed their false politics trying to turn the Muslims away from their religion. He (swt) said:

((يَسْأَلُونَكَ عَنِ الشَّهْرِ الْحَرَامِ قِتَالٍ فِيهِ قُلْ قِتَالٌ فِيهِ كَبِيرٌ وَصَدٌّ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ وَكُفْرٌ بِهِ وَالْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَإِخْرَاجُ أَهْلِهِ مِنْهُ أَكْبَرُ عِنْدَ اللَّهِ وَالْفِتْنَةُ أَكْبَرُ مِنَ الْقَتْلِ))

They ask you about the sacred month - about fighting therein. Say, "Fighting therein is great [sin], but averting [people] from the way of Allah and disbelief in Him and [preventing access to] Al-Masjid Al-Haram and the expulsion of its people therefore are a greater [evil] in the sight of Allah. And Fitnah is greater than killing."(TMQ 2:217).

And when the Jews of Bani Quraythah conspired to kill the Messenger  صلى الله عليه وآله وسلم by throwing a rock upon him  صلى الله عليه وآله وسلم when he  صلى الله عليه وآله وسلم was sitting next to a wall, the Messenger  صلى الله عليه وآله وسلم exposed their conspiracy and their being exiled was punishment for it. Ibn Ishaq said:

«خَرَجَ رَسُولُ اللّهِ  صلى الله عليه وآله وسلم إلَى بَنِي النّضِيرِ يَسْتَعِينُهُمْ فِي دِيَةِ ذَيْنِك الْقَتِيلَيْنِ مِنْ بَنِي عَامِرٍ اللّذَيْنِ قَتَلَ عَمْرُو بْنُ أُمَيّةَ الضّمْرِيّ، لِلْجِوَارِ الّذِي كَانَ رَسُولُ اللّهِ  صلى الله عليه وآله وسلم عَقَدَ لَهُمَا، كَمَا حَدّثَنِي يَزِيدُ بْنُ رُومَانَ، وَكَانَ بَيْنَ بَنِي النّضِير وَبَيْنَ بَنِي عَامِر ٍ عَقْدٌ وَحِلْفٌ. فَلَمّا أَتَاهُمْ رَسُولُ اللّهِ  صلى الله عليه وآله وسلم يَسْتَعِينُهُمْ فِي دِيَةِ ذَيْنِك الْقَتِيلَيْنِ قَالُوا: نَعَمْ يَا أَبَا الْقَاسِمِ، نُعِينُك عَلَى مَا أَحْبَبْت مِمّا اسْتَعَنْت بِنَا عَلَيْهِ ثُمّ خَلا بَعْضُهُمْ بِبَعْضِ فَقَالُوا: إنّكُمْ لَنْ تَجِدُوا الرّجُلَ عَلَى مِثْلِ حَالِهِ هَذِهِ -وَرَسُولُ اللّهِ  صلى الله عليه وآله وسلم إلَى جَنْبِ جِدَارٍ مِنْ بُيُوتِهِمْ قَاعِدٌ- فَمَنْ رَجُلٌ يَعْلُو عَلَى هَذَا الْبَيْتِ فَيُلْقِي عَلَيْهِ صَخْرَةً فَيُرِيحُنَا مِنْهُ؟ فَانْتَدَبَ لِذَلِكَ عَمْرُو بْنُ جَحّاشِ بْنُ كَعْبٍ، فَقَالَ: أَنَا لِذَلِكَ، فَصَعِدَ لِيُلْقِيَ عَلَيْهِ صَخْرَةً كَمَا قَالَ... فَأَتَى رَسُولَ اللّهِ  صلى الله عليه وآله وسلم الْخَبَرُ مِنْ السّمَاءِ بِمَا أَرَادَ الْقَوْمُ فَقَامَ وَخَرَجَ رَاجِعًا إلَى الْمَدِينَةِ... وَأَمَرَ رَسُولُ اللّهِ  صلى الله عليه وآله وسلم بِالتّهَيُّؤِ لِحَرْبِهِمْ وَالسّيْرِ إلَيْهِمْ... ثم أجلاهم  صلى الله عليه وآله وسلم »

The Prophet  صلى الله عليه وآله وسلم went out to Bani Nadir seeking their help pay the blood money for the two dead men of Bani ‘Amir who were killed by ‘Amru b. Umiyyah Al-Damri. They had a promise of protection from the Prophet  صلى الله عليه وآله وسلم according to Yazid b. Ruman. Bani Nadir and Bani ‘Amir had a treaty and were allies. When Allah's Messenger  صلى الله عليه وآله وسلم went to Bani Nadir asking them for help to pay the blood money for the two men, they said, ‘Yes, O Abu’l-Qasim! We will help you, since you asked us for help.’ Yet, when they met each other in secret, they said, ‘You will not find a better chance with this man than this- while the Messenger of Allah  صلى الله عليه وآله وسلم was sitting next to a wall of one of their houses. They said: ‘who will ascend this wall and drop a stone on this man and rid us of his trouble’ ‘Amr b. Jahsh b. Ka`b volunteered and ascended the wall of the house to drop a stone on the Messenger  صلى الله عليه وآله وسلم …The news of this plot was conveyed to the Prophet  صلى الله عليه وآله وسلم from heaven, and he stood up and went back to Madinah. The Messenger of Allah  صلى الله عليه وآله وسلم ordered the preparation of war and marched forth to them…then he exiled them”.  

And the Quran attacked Abu Lahab by name:

((تَبَّتْ يَدَا أَبِي لَهَبٍ وَتَبَّ (1)))

May the hands of Abu Lahab be ruined, and ruined is he.(TMQ 111:1) and others by their characteristics, all of which is considered undermining harmful personalities.

These are the evidences for this article.

Beberapa pasal UUD

Undang Dasar Negara Khilafah

Undang-Undang Dasar Negara Khilafah, berdasarkan metode kenabian:

Pasal 95: Putusan Mahkamah sebelum Khilafah

Pasal 95: Berbagai traksaksi, muamalah dan vonis yang dilakukan dan telah selesai pelaksanaannya sebelum berdirinya Khilafah, tidak dibatalkan oleh qadha’ Khilafah dan tidak diadili kembali kecuali jika perkara itu: a. Memiliki pengaruh yang terus menerus yang bertentangan dengan Islam, maka perkara tersebut diadili ulang b. Jika perkara tersebut berkaitan dengan pelanggaran/penyerangan terhadap… Selengkapnya
Undang-Undang Dasar Negara Khilafah, berdasarkan metode kenabian:

Pasal 54: Wali wewenang

Pasal 54: Wali mempunyai wewenang di bidang pemerintahan dan mengawasi seluruh aktivitas lembaga administrasi negara di wilayahnya, sebagai wakil dari Khalifah. Wali memiliki seluruh wewenang di daerahnya kecuali urusan keuangan, peradilan, dan angkatan bersenjata. Ia memiliki kepemimpinan atas penduduk di wilayahnya dan mempertimbangkan seluruh urusan yang berhubungan dengan wilayahnya. Dari… Selengkapnya
Undang-Undang Dasar Negara Khilafah, berdasarkan metode kenabian:

Pasal 84: Al-Muhtasib

Pasal 84: Al-Muhtasib adalah Qadli yang memeriksa perkara-perkara yang menyangkut hak-hak masyarakat secara umum, dan di dalamnya tidak perlu terdapat penuntut, dengan syarat tidak termasuk perkara hudud dan jinayat. Selengkapnya
Undang-Undang Dasar Negara Khilafah, berdasarkan metode kenabian:

Pasal 173: ilmu-ilmu Islam dan bahasa Arab di kelas

Pasal 173: Waktu pelajaran untuk ilmu-ilmu Islam dan bahasa Arab yang diberikan setiap minggu harus disesuaikan dengan waktu pelajaran untuk ilmu-ilmu lain, baik dari segi jumlah maupun waktu. Selengkapnya
Undang-Undang Dasar Negara Khilafah, berdasarkan metode kenabian:

Pasal 177: Kurikulum satuan pendidikan di sekolah umum dan swasta

Pasal 177: Kurikulum pendidikan hanya satu. Tidak boleh digunakan kurikulum selain kurikulum negara. Tidak ada larangan untuk mendirikan sekolah-sekolah swasta selama mengikuti kurikulum negara dan berdiri berdasarkan strategi pendidikan yang di dalamnya terealisasi politik dan tujuan pendidikan. Hanya saja pendidikan di sekolah itu tidak boleh bercampur baur antara laki-laki dengan perempuan… Selengkapnya
Undang-Undang Dasar Negara Khilafah, berdasarkan metode kenabian:

Pasal 140: Hak untuk memanfaatkan kepemilikan publik

Pasal 140: Setiap individu umat berhak memanfaatkan sesuatu yang termasuk dalam pemilikan umum. Negara tidak dibenarkan mengizinkan orang-orang tertentu saja dari kalangan rakyat, untuk memiliki atau mengelola pemilikan umum. Selengkapnya
Undang-Undang Dasar Negara Khilafah, berdasarkan metode kenabian:

Pasal 92: Fitur Madhalim Mahkamah

Pasal 92: Tidak disyaratkan pada qadla madzalim adanya majelis peradilan, atau adanya tuntutan dan penuntut. Mahkamah Madzalim berhak memeriksa suatu tindakan kedzaliman, walaupun tidak ada tuntutan dari siapa pun. Selengkapnya