Undang-Undang Dasar Negara Khilafah

UUD / Mu’awin At-Tafwidl §42-48

Pasal 43: Kondisi Mu’awin Tafwidl

Undang-Undang Dasar Negara Khilafah, berdasarkan metode kenabian: Pasal 43: Syarat-syarat Mu’awin Tafwidl sama seperti persyaratan Khalifah, yaitu laki-laki, merdeka, muslim, baligh, berakal, adil, dan memiliki kemampuan yang menyangkut tugas-tugas yang diembannya.

 

 

Article 43: The conditions for the assistant are the same as the conditions for the Khalifah; in other words, to be male, free, Muslim, adult, sane, just; and he is from the people of the capability in whatever actions were delegated to him.

The evidence here is the evidence for the Khalifah, so it is obligatory for him to be a male due to words of the Prophet  صلى الله عليه وآله وسلم

«لَنْ يُفْلِحَ قَوْمٌ وَلَّوْا أَمْرَهُمُ امْرَأَةً»

“Never will succeed such a nation that makes a woman their ruler.” (reported by Al-Bukhari from Abu Bakrah).

He must be a Muslim due to His words

((وَلَنْ يَجْعَلَ اللَّهُ لِلْكَافِرِينَ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ سَبِيلًا (141)))

And never will Allah give the disbelievers over the believers a way [to overcome them]. (TMQ 4:141); therefore, it is forbidden for a non-Muslim to be a ruler over the Muslims, since ruling is the greatest way over the Muslims.

He is to be free since the slave does not have control over his own issues and so he cannot undertake the control of other peoples’ affairs.

He should be an adult, due to the words of the Messenger  صلى الله عليه وآله وسلم

«أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ رُفِعَ الْقَلَمُ عَنْ ثَلَاثَةٍ عَنْ النَّائِمِ حَتَّى يَسْتَيْقِظَ وَعَنْ الصَّغِيرِ حَتَّى يَكْبَرَ وَعَنْ الْمَجْنُونِ حَتَّى يَعْقِلَ أَوْ يُفِيقَ»

“The Messenger of Allah said, “The Pen has been lifted from three (their actions are not recorded) : from the sleeping person until he awakens, from the minor until he grows up, and from the insane person until he comes to his senses.and in a narration

«وَعَنْ الْمُبْتَلَى حَتَّى يَبْرَأَ»

“and from the afflicted person until he recovers” (reported by Ibn Maja and Al-Hakim from ’Aishah, and the wording is from Ibn Maja). Al-Tirmidhi and Ibn Khuzaima reported the same from Ali.

From the raising of the pen is that his actions in his own affairs are not valid, and so it is not valid for him to act in the affairs of others. In addition, the narration of Abu ’Uqayl Zuhra Bin Ma’bad from his father ’Abd Allah b. Hisham who was at the time of the Prophet when his mother Zaynab Bin Humayd took him to the Messenger of Allah  صلى الله عليه وآله وسلم and said: O Messenger of Allah, take Bay’a from him. He  صلى الله عليه وآله وسلم replied

«هُوَ صَغِيرٌ، فَمَسَحَ رَأْسَهُ وَدَعَا لَهُ»

“He is a little child, and he passed his hand over his head and invoked Allah for him.” as reported in Al-Bukhari. So as long as the child is not permitted to give the Bay’a, then by greater reasoning, he cannot accept it.

As for being sane, this is due to the narration just mentioned

«رفع القلم عن ثلاثة ...»

“The pen is lifted from three (their actions are not recorded)” until it was mentioned

« وَعَنْ الْمَجْنُونِ حَتَّى يَعْقِلَ أَوْ يُفِيقَ »

“and from the insane person until he comes to his senses” and in a report

«وَعَنْ الْمُبْتَلَى حَتَّى يَبْرَأَ»

“and from the afflicted person till he recovers”. From the raising of the pen is that his actions in his own affairs are not valid and so it is not valid for him to act in the affairs of others.

He should be just, since Allah (swt) made it a condition for the witnessing, saying

 ((وَأَشْهِدُوا ذَوَيْ عَدْلٍ مِنْكُمْ))

And take for witness two persons from among you.(TMQ 65:2), and so it is a condition for the assistant by greater reasoning.

It is a condition for the assistant to be from the people of sufficiency in the actions of ruling since that is necessitated from undertaking ruling, since the one who was not capable would not be able to carry it out. And also due to the evidence mentioned, including: Muslim reported through Abu Dharr:

«قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَلاَ تَسْـتَـعْمِلُنِي؟ قَالَ: فَضَرَبَ بِيَدِهِ عَلَى مَنْكِبِي ثُمَّ قَالَ: يَا أَبَا ذَرٍّ، إِنَّكَ ضَعِيفٌ، وَإِنَّهَا أَمَانَةُ، وَإِنَّهَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ خِزْيٌ وَنَدَامَةٌ، إِلاَّ مَنْ أَخَذَهَا بِحَقِّهَا وَأَدَّى الَّذِي عَلَيْهِ فِيهَا»

“I said: O Messenger of Allah, will you not use me? He placed his hand upon my shoulder and then said O Abu Dharr, you are weak, and it is an Amanah (trust), and on the Day of Judgement, it will be a disgrace and a regret except (for those) who take it by its right and perform its duties correctly.

The Messenger of Allah  صلى الله عليه وآله وسلم considered taking it without its right, in other words, if the person was not suitable for it, would be a disgrace and regret, which is an indication upon the decisiveness of the order.

Beberapa pasal UUD

Undang Dasar Negara Khilafah

Undang-Undang Dasar Negara Khilafah, berdasarkan metode kenabian:

Pasal 44: Memberdayakan Mu’awin Tafwidl

Pasal 44: Dalam penyerahan tugas kepada Mu’awin Tafwidl, disyaratkan dua hal: Pertama, kedudukannya mencakup segala urusan negara. Kedua, sebagai wakil Khalifah. Disaat pengangkatannya, Khalifah harus menyatakan: “Aku serahkan kepada Anda apa yang menjadi tugasku sebagai wakilku”, atau dengan redaksi lain yang mencakup kedudukannnya yang umum dan bersifat mewakili. Penyerahan tugas ini… Selengkapnya
Undang-Undang Dasar Negara Khilafah, berdasarkan metode kenabian:

Pasal 186: Kebesaran pikiran Islam

Pasal 186: Menampilkan keagungan pemikiran Islam dalam mengatur urusan-urusan individu, bangsa dan negara, merupakan metode politik yang paling penting. Selengkapnya
Undang-Undang Dasar Negara Khilafah, berdasarkan metode kenabian:

Pasal 126: Kekayaan milik Allah (swt)

Pasal 126: Harta adalah milik Allah. Dia memberi hak penuh –secara umum- kepada manusia untuk menguasainya, maka dengan itu harta tersebut benar-benar menjadi hak miliknya. Dia pula yang mengizinkan setiap individu untuk mendapatkannya, sehingga dengan izin yang bersifat khusus itu harta tersebut benar-benar menjadi miliknya secara nyata. Selengkapnya
Undang-Undang Dasar Negara Khilafah, berdasarkan metode kenabian:

Pasal 38: Powers dan Ketentuan untuk perawatan untuk umat

Pasal 38: Khalifah memiliki hak mutlak untuk mengatur urusan-urusan rakyat sesuai dengan pendapat dan ijtihadnya. Khalifah berhak melegislasi hal-hal mubah yang diperlukan untuk memudahkan pengaturan negara dan pengaturan urusan rakyat. Khalifah tidak boleh menyalahi hukum syara’ dengan alasan maslahat. Khalifah tidak boleh melarang sebuah keluarga untuk memiliki lebih dari seorang anak dengan… Selengkapnya
Undang-Undang Dasar Negara Khilafah, berdasarkan metode kenabian:

Pasal 152: Pengeluaran Baitul Mal

Pasal 152: Pengeluaran Baitul Mal disalurkan pada enam bagian: a. Delapan golongan yang berhak menerima zakat. Mereka berhak mendapatkannya dari pos pemasukan zakat (di Baitul Mal). b. Jika dari kas zakat tidak ada dana, maka untuk orang fakir, miskin, ibnu sabil, kebutuhan jihad, dan gharimin (orang yang dililit hutang), diberikan dari sumber pemasukan Baitul Mal lainnya. Dan jika itu pun tidak… Selengkapnya
Undang-Undang Dasar Negara Khilafah, berdasarkan metode kenabian:

Pasal 178: Pendidikan adalah wajib dan gratis untuk semua

Pasal 178: Pengajaran hal-hal yang dibutuhkan manusia dalam kehidupannya merupakan kewajiban negara yang harus terpenuhi bagi setiap individu, baik laki-laki maupun perempuan pada tingkat pendidikan dasar dan menengah. Negara wajib menyediakannya untuk seluruh warga dengan cuma-cuma. Dan kesempatan pendidikan tinggi secara cuma-cuma dibuka seluas mungkin dengan fasilitas sebaik mungkin. Selengkapnya
Undang-Undang Dasar Negara Khilafah, berdasarkan metode kenabian:

Pasal 18: Penguasa dan pegawai di negara bagian.

Pasal 18: Penguasa mencakup empat orang, yaitu Khalifah, Mu’awin Tafwidl, Wali dan Amil. Selain mereka, tidak tergolong sebagai penguasa, melainkan hanya pegawai pemerintah. Selengkapnya