Undang-Undang Dasar Negara Khilafah

UUD / Sistem Sosial §112-122

Pasal 117: Ketentuan dalam kehidupan pribadi dan publik

 Undang-Undang Dasar Negara Khilafah, berdasarkan metode kenabian: Pasal 117: Perempuan bergaul dalam kehidupan khusus maupun umum. Di dalam kehidupan umum perempuan boleh bergaul bersama kaum perempuan, atau kaum laki-laki baik yang mahram maupun yang bukan; selama tidak menampakkan auratnya kecuali wajah dan telapak tangan, tidak tabarruj dan tidak menampilkan lekuk tubuhnya. Di dalam kehidupan khusus tidak boleh bergaul kecuali dengan sesama kaum perempuan, atau dengan kaum laki-laki yang menjadi mahramnya. Tidak dibolehkan bergaul dengan laki-laki asing (bukan mahram). Di dalam kedua macam kehidupan itu, seorang perempuan harus tetap terikat dengan seluruh hukum syara’.

 

 

Article 117: The woman lives in public and private spheres; in the public sphere she is permitted to live with women, Maharim men, and foreign men (men whom she can marry) on the condition that nothing other than her face and hands can be revealed, and that the clothing is not revealing, besides there is not any open display of adornments. As for the private sphere, she is not permitted to live with anyone other than women and her Maharim, and she is not permitted to live with unrelated/foreign men. She is restricted by all the Shari’ah rules in both spheres.

The evidence for this article is the verse mentioning seeking permission

((آَمَنُوا لَا تَدْخُلُوا بُيُوتًا غَيْرَ بُيُوتِكُمْ حَتَّى تَسْتَأْنِسُوا وَتُسَلِّمُوا عَلَى أَهْلِهَا}

O you who have believed, do not enter houses other than your own houses until you ascertain welcome (ask for permission) and greet their.(TMQ 24:27), and the verse regarding revealing the beautification to the Maharim

((وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا لِبُعُولَتِهِنَّ أَوْ آَبَائِهِنَّ أَوْ آَبَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ أَبْنَائِهِنَّ أَوْ أَبْنَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي أَخَوَاتِهِنَّ}

And tell the believing women   not to expose their adornment except to their husbands, their fathers, their husbands' fathers, their sons, their husbands' sons, their brothers, their brothers' sons, their sisters' sons.(TMQ 24:31) - which are the evidences for the private sphere. The verse mentioning the complete clothing

((وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنّ}َ

And tell the believing women   to wrap [a portion of] their headcovers over their chests.(TMQ 24:31)and the Jilbab

((يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ}

O Prophet, tell your wives and your daughters and the women of the believers to bring down (let down) over themselves their outer garments., and the verse regarding the prohibition of the open display of adornments

((غَيْرَ مُتَبَرِّجَاتٍ بِزِينَةٍ))

[but] not displaying adornment.” (TMQ 24:60), along with the texts which indicate the obligatory, recommended and permitted actions which Allah (swt) legislated for woman and man without distinction, are all evidences for the public sphere.

However, when Allah (swt) permitted the woman to participate in the public sphere with men, such as the permissibility for her to participate in trade, agriculture, industry, the civil service, the judiciary, membership of political parties, accounting the ruler, and dealing with life’s affairs in the same manner as the man, at the same time He (swt) laid down specific rules. So the clothes which she is permitted to come out with in the public sphere have been specified, in that she has to cover all of her body other than her hands and face, and not display her adornments and beautification openly; Allah said

((وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا}

And tell the believing women not to expose their adornment except that which [necessarily] appears thereof.” (TMQ 24:31). Ibn ‘Abbas said this is the face and hands, as reported by Al-Bayhaqi in Al-Sunan Al-Kubra. The Prophet صلى الله عليه وآله وسلم said

«إِنَّ الْجَارِيَةَ إِذَا حَاضَتْ لَمْ يَصْلُحْ أَنْ يُرَى مِنْهَا إِلاَّ وَجْهُهَا وَيَدَاهَا إِلَى المِفْصَلِ»

“If a girl reaches puberty (indicated by starting menstrual cycle), it is not right that any part of her be seen other than her face and the two hands up to the wrists” (reported by Abu Dawud as a Mursalnarration), and Allah (swt) said

((غَيْرَ مُتَبَرِّجَاتٍ بِزِينَةٍ))

[but] not displaying adornment.” (TMQ 24:60), and the Prophet صلى الله عليه وآله وسلم also said

«أَيُّمَا امْرَأَةٍ اسْـتَعْطَرَتْ فَمَرَّتْ عَلَى قَوْمٍ لِيَجِدُوا مِنْ رِيحِهَا فَهِيَ زَانِيَةٌ»

Any woman who puts on perfume then passes by people so that they can smell her fragrance then she is an adulteress (reported by Al-Nasa’i from Abu Musa Al-Ash‘ari, and Al-Hakim authenticated it and Al-Dhahabi confirmed it).

As for how the woman should live in the private sphere, she has been prohibited from living with anyone other than women, Maharim or children, and she has been prohibited from appearing in this private sphere in light clothes except in front of those just mentioned. Allah (swt) said

((وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا لِبُعُولَتِهِنَّ أَوْ آَبَائِهِنَّ أَوْ آَبَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ أَبْنَائِهِنَّ أَوْ أَبْنَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي أَخَوَاتِهِنَّ أَوْ نِسَائِهِنَّ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُنَّ أَوِ التَّابِعِينَ غَيْرِ أُولِي الْإِرْبَةِ مِنَ الرِّجَالِ أَوِ الطِّفْلِ الَّذِينَ لَمْ يَظْهَرُوا عَلَى عَوْرَاتِ النِّسَاءِ}

And tell the believing women not to expose their adornment except to their husbands, their fathers, their husbands' fathers, their sons, their husbands' sons, their brothers, their brothers' sons, their sisters' sons, their women, that which their right hands possess, or those male attendants having no physical desire, or children who are not yet aware of the private aspects of.” (TMQ 24:31).

It is not permitted for anyone to come into her private sphere before taking permission, irrespective of whether they were Mahram or not; Allah (swt) said

((لَا تَدْخُلُوا بُيُوتًا غَيْرَ بُيُوتِكُمْ حَتَّى تَسْتَأْنِسُوا وَتُسَلِّمُوا عَلَى أَهْلِهَا}

O you who have believed, do not enter houses other than your own houses until you ascertain welcome (ask for permission) and greet their inhabitants.(TMQ 24:27); and the Messenger صلى الله عليه وآله وسلم ordered a man to take permission before entering his mother’s place.

These are the evidences for this article.

Beberapa pasal UUD

Undang Dasar Negara Khilafah

Undang-Undang Dasar Negara Khilafah, berdasarkan metode kenabian:

Pasal 37: Syarat dan ketentuan pengadopsian aturan syara’

Pasal 37: Dalam melegislasi hukum, Khalifah terikat dengan hukum-huklum syara’. Diharamkan atasnya melegislasi hukum yang tidak diambil melalui proses ijtihad yang benar dari dalil-dalil syara’. Khalifah terikat dengan hukum yang dilegislasinya, dan terikat dengan metode ijtihad yang dijadikannya sebagai pedoman dalam pengambilan suatu hukum. Khalifah tidak dibenarkan melegislasi hukum… Selengkapnya
Undang-Undang Dasar Negara Khilafah, berdasarkan metode kenabian:

Pasal 89: Jumlah yang tidak terbatas hakim Madhalim

Pasal 89: Jumlah Qadli Madzalim tidak terbatas hanya satu orang atau lebih. Kepala negara dapat mengangkat beberapa orang Qadli Madzalim sesuai dengan kebutuhan negara dalam mengatasi tindakan kedzaliman. Tatkala para Qadli menjalankan tugasnya, wewenang pengambilan keputusan hanya pada satu orang. Sejumlah Qadli Madzalim boleh mengikuti dan mendampingi hakim pada saat sidang, namun wewenang… Selengkapnya
Undang-Undang Dasar Negara Khilafah, berdasarkan metode kenabian:

Pasal 105: Majelis Umat

Pasal 105: Majelis umat adalah orang-orang yang mewakili kaum Muslim dalam menyampaikan pendapat, sebagai bahan pertimbangan bagi Khalifah. Orang-orang yang mewakili penduduk wilayah disebut Majelis Wilayah. Orang non-Muslim dibolehkan menjadi anggota majelis umat untuk menyampaikan pengaduan tentang kedzaliman para penguasa atau penyimpangan dalam pelaksanaan hukum-hukum Islam. Selengkapnya
Undang-Undang Dasar Negara Khilafah, berdasarkan metode kenabian:

Pasal 46: Ikuti karya Mu’awin Tafwidl

Pasal 46: Khalifah wajib mengetahui aktivitas Mu’awin Tafwidl dan pengaturan berbagai urusan yang dilakukannya, agar Khalifah dapat menyetujui yang sesuai dengan kebenaran dan mengoreksi kesalahan; mengingat pengaturan urusan umat adalah tugas Khalifah yang dijalankan berdasar ijtihadnya. Selengkapnya
Undang-Undang Dasar Negara Khilafah, berdasarkan metode kenabian:

Pasal 184: Manuver-manuver politik

Pasal 184: Manuver politik sangat penting dalam politik luar negeri. Kekuatannya terletak pada penampakan kegiatan dan merahasiakan tujuan. Selengkapnya
Undang-Undang Dasar Negara Khilafah, berdasarkan metode kenabian:

Pasal 55: Koordinasi antara Wali dan Khalifah

Pasal 55: Wali tidak harus memberi laporan kepada Khalifah tentang apa yang dilakukan di wilayah kekuasaannya, kecuali ada beberapa pilihan (yang harus ditentukannya). Apabila terdapat perkara baru yang tidak ditetapkan sebelumnya, ia harus memberikan laporan kepada Khalifah, kemudian baru dilaksanakan berdasarkan perintah Khalifah. Apabila dengan menunggu persetujuan dari Khalifah suatu urusan… Selengkapnya
Undang-Undang Dasar Negara Khilafah, berdasarkan metode kenabian:

Pasal 51: Kekuasaan Mu’awin Tanfidz

Pasal 51: Mu’awin Tanfidz selalu berhubungan langsung dengan Khalifah, seperti halnya Mu’awin Tafwidl. Dia berposisi sebagai Mu’awin dalam hal pelaksanaan, bukan menyangkut pemerintahan. Selengkapnya