Undang-Undang Dasar Negara Khilafah

UUD / Sistem Ekonomi §123-169

Pasal 149: Sumber tetap pemasukan Baitul Mal

Undang-Undang Dasar Negara Khilafah, berdasarkan metode kenabian: Pasal 149: Sumber tetap pemasukan Baitul Mal berupa fa’i, jizyah, kharaj, seperlima harta rikaz dan zakat. Seluruh pemasukan ini dipungut secara tetap, baik diperlukan atau tidak.

 

Article 149: The permanent sources of income for the Bayt Al-Mal are the booty, Jizya, land tax, a fifth of buried treasure, and Zakah. This income is collected continuously irrespective of whether there was a need or not.

 

The evidences for this article are the evidences which include the income, so the evidence for booty is the words of Allah (swt):

((مَا أَفَاءَ اللَّهُ عَلَى رَسُولِهِ مِنْ أَهْلِ الْقُرَى فَلِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ وَلِذِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِ وَابْنِ السَّبِيلِ))

And what Allah restored to His Messenger from the people of the towns - it is for Allah and for the Messenger and for [his] near relatives and orphans and the [stranded] traveller.” (TMQ 59:7). The evidence for Jizyah is His (swt) words:

((حَتَّى يُعْطُوا الْجِزْيَةَ عَنْ يَدٍ وَهُمْ صَاغِرُونَ))

Until they give the Jizyah willingly while they are humbled.” (TMQ 9:29). The evidence for land tax is what was reported from Abu ‘Ubayd regarding the Kharajiyyah land when he said:

«وجدنا الآثار عن رسول الله SL-16pt والخلفاء بعده قد جاءت في افتتاح الأرضين بثلاثة أحكام: أرض أسلم عليها أهلها فهي ملك أيمانهم، وهي أرض عشر لا شيء عليهم فيها غيره. وأرض افتتحت صلحاً على خراجٍ معلوم فهم على ما صولحوا عليه لا يلزمهم أكثر منه. وأرض أخذت عنوة فهي التي اختلف فيها المسلمون، فقال بعضهم سبيلها سبيل الغنيمة فتخمس وتقسم، فيكون أربعة أخماسها خططاً بين الذين افتتحوها خاصة، ويكون الخمس الباقي من سمى الله تبارك وتعالى. وقال بعضهم بل حكمها والنظر فيها إلى الإمام إن رأى أن يجعلها غنيمة فيخمسها ويقسمها كما فعل رسول الله SL-16pt بخيبر فذلك له، وإن رأى أن يجعلها فيئاً فلا يخمسها ولا يقسمها ولكن تكون موقوفة على المسلمين عامة ما بقوا كما صنع عمر بالسواد فعل ذلك، فهذه أحكام الأرض التي تفتح فتحاً»

We found reports from the Messenger of Allah SL-16pt and the following Khulafaa', regarding land conquering, in three rules: the land of those who had embraced Islam, so it belongs to them, and this is the land of ‘Ushr ( tenth) and there is nothing (imposed) upon them other than that. And land which was opened through a peace treaty based upon an agreed land tax, and nothing more is imposed upon them. And the land which was taken by force, which is the subject that the Muslims differed over; some of them said it should be treated like booty, so a fifth is taken off it (by the State) and it is divided, and so four fifths is divided between those who had conquered the land, and the remaining fifth is for Allah (swt). And some said, no, rather its rule is left to the Imam; if he thinks it should be left as booty, a fifth is taken and the rest is divided in the same manner that the Messenger of Allah did, then he can do that, and if he thinks that it should be kept as a spoil of war, it is left undivided but rather it is left for the generality of the Muslims as Omar did with Al-Sawaad. These are the rules regarding land which has been conquered”. The story of Muslims’ discussion with Omar (ra) regarding the land of Sawaad (land of Iraq) is also reported by Abu Yusuf in Al-Kharaj.

As for the fifth of treasures its evidence is the words of the Messenger SL-16pt:

«وَفِي الرِّكَازِ الْخُمُسُ»

One fifth is compulsory to be paid (as Zakah) on buried Treasure. And as for Zakah, its evidences are many, Allah (swt) said:

((وَآَتَوُا الزَّكَاةَ))

And give Zakah(TMQ 2:43), and the Prophet  SL-16pt said to Mu’adh:

«فَأَعْلِمْهُمْ أَنَّ اللهَ افْتَرَضَ عَلَيْهِمْ صَدَقَةً فِي أَمْوَالِهِمْ، تُؤْخَذُ مِنْ أَغْنِيَائِهِمْ وَتُرَدُّ عَلَى فُقَرَائِهِمْ»

tell them that Allah has made the payment of Zakah obligatory upon them. It should be collected from their rich and distributed among their poor.

All of these evidences convey the meaning of obligation, and so paying this wealth is an obligation, which is why it is taken perpetually regardless of the need, since Allah (swt) made it obligatory, and the obligation must be carried out.

Beberapa pasal UUD

Undang Dasar Negara Khilafah

Undang-Undang Dasar Negara Khilafah, berdasarkan metode kenabian:

Pasal 140: Hak untuk memanfaatkan kepemilikan publik

Pasal 140: Setiap individu umat berhak memanfaatkan sesuatu yang termasuk dalam pemilikan umum. Negara tidak dibenarkan mengizinkan orang-orang tertentu saja dari kalangan rakyat, untuk memiliki atau mengelola pemilikan umum. Selengkapnya
Undang-Undang Dasar Negara Khilafah, berdasarkan metode kenabian:

Pasal 149: Sumber tetap pemasukan Baitul Mal

Pasal 149: Sumber tetap pemasukan Baitul Mal berupa fa’i, jizyah, kharaj, seperlima harta rikaz dan zakat. Seluruh pemasukan ini dipungut secara tetap, baik diperlukan atau tidak. Selengkapnya
Undang-Undang Dasar Negara Khilafah, berdasarkan metode kenabian:

Pasal 187: Islam adalah tugas politik bagi bangsa

Pasal 187: Prinsip utama politik umat adalah menampilkan Islam dalam sosok negara yang kuat, penerapan hukum-hukumnya secara baik, serta upaya terus menerus untuk mengemban dakwahnya ke seluruh dunia. Selengkapnya
Undang-Undang Dasar Negara Khilafah, berdasarkan metode kenabian:

Pasal 71: Polisi

Pasal 71: Polisi ada dua jenis; polisi militer yang berada di bawah Amirul Jihad atau Direktorat Perang, dan polisi yang ada di bawah penguasa untuk menjaga keamanan; polisi ini berada di bawah Direktorat Keamanan Dalam Negeri. Kedua jenis polisi tersebut diberi pelatihan khusus dengan tsaqafah khusus yang memungkinkannya melaksanakan tugas-tugasnya dengan baik. Selengkapnya
Undang-Undang Dasar Negara Khilafah, berdasarkan metode kenabian:

Pasal 81: Majelis (sidang) pengadilan

Pasal 81: Seorang Qadli tidak boleh memutuskan perkara kecuali dalam majelis (sidang) pengadilan. Pembuktian dan sumpah dianggap sah, hanya yang disampaikan di dalam sidang pengadilan. Selengkapnya
Undang-Undang Dasar Negara Khilafah, berdasarkan metode kenabian:

Pasal 184: Manuver-manuver politik

Pasal 184: Manuver politik sangat penting dalam politik luar negeri. Kekuatannya terletak pada penampakan kegiatan dan merahasiakan tujuan. Selengkapnya
Undang-Undang Dasar Negara Khilafah, berdasarkan metode kenabian:

Pasal 89: Jumlah yang tidak terbatas hakim Madhalim

Pasal 89: Jumlah Qadli Madzalim tidak terbatas hanya satu orang atau lebih. Kepala negara dapat mengangkat beberapa orang Qadli Madzalim sesuai dengan kebutuhan negara dalam mengatasi tindakan kedzaliman. Tatkala para Qadli menjalankan tugasnya, wewenang pengambilan keputusan hanya pada satu orang. Sejumlah Qadli Madzalim boleh mengikuti dan mendampingi hakim pada saat sidang, namun wewenang… Selengkapnya